Sharing mengenai perkembangan visi, misi SABDA.

Berbicara tentang perkembangan visi dan misi SABDA, pasti tidak bisa lepas dari sejarah. Sejarah pada bagaimana Tuhan memanggil para pendiri YLSA atau pendiri SABDA untuk melakukan pelayanan yang sudah berjalan lebih dari 25 tahun. Dan, pada tahun 2019 kemarin, kami merayakan ulang tahun perak, yaitu ulang tahun ke-25.

Ketika Tuhan memanggil SABDA untuk pertama kali, Tuhan memberi satu landasan pelayanan yang luar biasa. Mungkin banyak yang belum tahu, SABDA itu ada di mana? Kalau lihat di peta, ini jelas sekali, SABDA ada di Solo, kota kecil, kota yang tenang; walaupun sekarang juga ada zona merahnya (angka positif terjangkit COVID-19 - Red) di sini. Kota yang sangat berbudaya, dan kami bersyukur karena walaupun dari tempat yang kecil, Tuhan sudah bisa menyatakan bahwa dengan teknologi, tempat tidak masalah. Dengan teknologi, kita bisa menjadi dampak yang sangat luar biasa. Tidak hanya di bagian lokal, tetapi menjadi dampak sampai ke seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara secara global.

Banyak yang mengira SABDA itu ada di Jakarta, bahkan ada yang kira berada di luar negeri. SABDA ada di Solo. Ya, kami bersyukur. Dan, ketika Tuhan memberikan panggilan untuk melaksanakan pelayanan Yayasan Lembaga SABDA, Tuhan memberikan satu landasan, yaitu landasan pelayanan yang kami gunakan sampai hari ini. Itu menjadi falsafah pelayanan SABDA, yaitu "freely you have received, freely give". Itu diambil dari Matius 10:8b. Kami bersyukur karena Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kita sudah menerima anugerah dengan cuma-cuma dari Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita memberikan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita, sebagai orang percaya, secara cuma-cuma pula kepada orang lain.

Saat ini, Tuhan memercayakan banyak sekali pelayanan digital, kemampuan, teknologi, dan bagaimana kami harus memberikan itu untuk kemuliaan nama Tuhan, yaitu dengan memberikannya secara gratis. SABDA sering dikenal dengan pelayanan yang memberikan pelayanannya secara gratis. Dan, itu kami terapkan dalam pelayanan kami sampai hari ini. Oleh karena itu, prinsip pelayanan SABDA adalah pelayanan nonprofit, nonkomersial, dan interdenominasi. Pelayanan nonprofit dan nonkomersial berarti kami tidak mengambil keuntungan apa pun dalam setiap pelayanan yang kami lakukan. Kami juga tidak melakukan jual beli apa pun untuk mendatangkan keuntungan. Kami juga tidak membuat iklan, menerima iklan, atau memasang dalam setiap situs dan aplikasi yang kami miliki. Semuanya kami lakukan secara gratis, dan kami bersyukur akan hal itu.

Banyak yang bertanya, "Kalau gratis, bagaimana bisa jalan?" Itu karya Tuhan sendiri. Tuhan yang menggerakan anak-anak Tuhan yang sudah terberkati dengan pelayanan yang telah Tuhan berikan, sehingga Ia menggerakkan persembahan kasih supaya Yayasan Lembaga SABDA dapat terus memberikan pelayanan ini secara gratis. Ya, seperti yang sudah Tuhan berikan.

Kami juga adalah pelayanan yang bersifat interdenominasi. Kami tidak berafiliasi dengan gereja atau organisasi mana pun. Kami juga tidak di bawah gereja atau organisasi apa pun sehingga kami bisa bergerak bebas melayani semua denominasi yang ada di Indonesia, semua lembaga organisasi yang ada di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Dan, kami bersyukur untuk ini.

Sejarah YLSA dimulai dari panggilan Tuhan yang sudah digumulkan tahun 1993. Ketika itu, Tuhan memberikan satu panggilan yang sangat jelas, yaitu Alkitab, kepada para pendiri YLSA, para founder YLSA. Pelayanan Alkitab dan kendaraannya adalah teknologi. Alkitab dan teknologi inilah yang menjadi fokus pelayanan SABDA sejak tahun 1994 ketika Yayasan Lembaga SABDA lahir. Dan, selama 25 tahun, Tuhan memimpin dan menyertai YLSA untuk melaksanakan visi dari Allah. Kita akan melihat apa itu visi dan misi SABDA.

Ini adalah timeline, sejarah perjalanan SABDA selama 25 tahun. Ini tidak bisa kami tuliskan satu per satu, kecuali "highlight-highlights"-nya saja. Kami tidak bisa menuliskan satu per satu apa yang sudah dikerjakan setiap tahun karena terlalu panjang daftarnya. Jadi, pertama kali Tuhan memanggil pada tahun 1993, lalu pada tahun 1994 secara resmi Yayasan Lembaga SABDA berdiri. Lalu, mulai muncul Software Alkitab. Mulailah produk utama kami keluar, yaitu software SABDA. Mungkin ada yang masih memakai dan sampai hari ini juga masih setia memakai software SABDA.

Lalu, kami mulai berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Setiap tahun, kami berusaha supaya bisa menggunakan teknologi yang sedang berkembang saat itu untuk digunakan bagi pelayanan Alkitab yang secara khusus berbasis digital. Ada video untuk melihat perjalanan Yayasan Lembaga SABDA selama 25 tahun (link video).

Selama 25 tahun, jika kita melihat perkembangannya sampai sekarang, Tuhan itu menuntun Yayasan Lembaga SABDA langkah demi langkah. Dahulu, pada tahun 2001, ketika saya baru masuk, saya diberi tahu bahwa prinsipnya saat ini adalah Alkitab harus ada di mana saja, bisa diakses oleh siapa saja secara gratis. Bagaimana caranya supaya bisa ada di mana saja? Salah satunya dengan digital. Oleh karena itu, pada awal-awal saya masuk YLSA, Alkitab-Alkitab yang belum ada versi digitalnya diketik teksnya. Lalu, kita masukkan ke dalam program, ke dalam sistem, supaya setiap orang bisa membaca Alkitab dan mempelajarinya.

Setelah Alkitab bisa diakses secara luas, baik melalui software maupun situs, Tuhan juga memberikan teknologi yang baru lagi. Saat itu tidak hanya ada komputer, tetapi terdapat pula platform-platform lain. Ada gadget, ada HP, ada tablet, dan lain sebagainya. Alkitab tidak cukup hanya ada di rumah, Alkitab harus ada dalam setiap layar. Kalau orang-orang bilang, generasi sekarang ini adalah generasi layar atau "screen generation". Jadi, Alkitab harus ada di setiap layar agar bisa menjangkau setiap generasi.

Namun, apakah SABDA hanya memproduksi, atau hanya membuat sistem, infrastruktur, dan sebagainya tanpa ada tujuan yang jelas? Tujuannya sangat jelas, yaitu Alkitab ada dalam hati setiap orang melalui gadgetnya; melalui komputer, media sosial mereka. Mengapa Alkitab harus ada di sana? Agar Alkitab ada dalam hati setiap orang. Dengan begitu, kami yakin dan percaya, gerakan yang juga menjadi visi dari SABDA dapat terwujud.

Visi dari SABDA adalah IT4God. Teknologi untuk kemuliaan Tuhan. Ini visi yang Tuhan berikan sejak awal Tuhan memanggil orang-orang untuk mengerjakan pelayanan ini. Dan, saat ini, ada dua sisi pelayanan yang dikerjakan oleh Yayasan Lembaga SABDA dengan visi IT4God, yaitu Biblical Computing dan Digital Ministry. Landasannya adalah firman Tuhan. Untuk mewujudkan visi dari YLSA ini, kami memiliki misi sebagai fasilitator, katalisator, dan infrastruktur. Kami berkomitmen untuk menjadi fasilitator, katalisator, dan infrastruktur bagi tubuh Kristus di Indonesia sehingga semua dapat mengakses dan melakukan studi Alkitab, kapan saja dan di mana saja dalam segala platform dan teknologi. Dan, inilah yang akan terus menjadi perjuangan YLSA pada abad ke-21 ini sampai abad-abad selanjutnya. Dan, saya berharap, kita semua berharap, kami semua berharap, ini juga akan menjadi suatu gerakan bagi Anda sekalian.

Yang menjadi strategi Yayasan Lembaga SABDA dalam menjalankan pelayanannya guna mewujudkan visi dan misinya adalah B.E.S.T. Untuk Tuhan, kita pasti harus memberi yang terbaik (the best). Jadi, apa itu B.E.S.T.?

Sudah pasti, B-nya itu Bible. Ini berarti Bible Engagement, Bible Study Systems dan Bible Technology. Saya akan jelaskan. Kita mulai dahulu dari yang utamanya, yaitu Bible Study System. Fokus Yayasan Lembaga SABDA itu lebih dari hanya Alkitab. Yayasan Lembaga SABDA adalah yayasan studi Alkitab. Ya, ini yang harus saya tekankan. Yayasan Lembaga SABDA adalah yayasan studi Alkitab berserta aplikasinya. Untuk itu, Yayasan Lembaga SABDA membuat berbagai bahan, alat, metode, proses, termasuk training yang menjadi sistem, platform atau ekosistem untuk studi Alkitab. Itu adalah fokus dari pelayanan SABDA.

Lalu, bagaimana dengan Bible Engagement? Tentu saja, ketika kita melakukan studi Alkitab, sudah ada sistemnya, sudah ada alatnya dan sebagainya. Itu semua harus ada, harus terhubung dengan para pemakainya, harus terhubung dengan para penggunanya. Jadi, dalam Bible Engagement, fokusnya adalah Alkitab yang hidup, yaitu tentang penggunanya dan dampaknya. Oleh karena itu, kita sebut sebagai Bible Engagement. Jadi, harus ada aplikasinya, harus ada interaksi antara bahan, alat, metode dengan sistemnya dengan masyarakat. Tujuannya apa? Supaya firman Tuhan dapat hidup dalam kehidupan tubuh Kristus, dan setiap hari mereka dapat mengaplikasikan Firman Tuhan. Oleh karena itu, kami mengadakan banyak pelatihan, yang salah satunya bernama Ayo PA.Lalu, kami juga membuka grup-grup renungan di Facebook supaya setiap Firman Tuhan yang ada dapat hidup dengan para penggunanya dengan menggunakan teknologi sebagai sarananya.

Nah, Bible Technology itu adalah dapur dari Bible Study System dan Bible Engagement. Semuanya itu dalam Bible Study System dan Bible Engagement dikerjakan dengan memanfaatkan teknologi, baik dari mesin, program, programmer-nya, infrastruktur teknologinya, dan sebagainya. Oleh karena itu, kita bisa melihat sekarang hubungan di antara strategi ini dengan yang sudah disebutkan tadi, yaitu dua sisi pelayanan IT4God, Biblical Computing dan Digital Ministry.

B.E.S.T inilah yang menjadi Biblical Computing. B.E.S.T sendiri, Biblical Computing ini harus menghasilkan aplikasi alkitabiah yang bisa diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan Kristen, dan ini kami lakukan dalam Digital Ministry. Nah, karena itulah Yayasan Lembaga SABDA bukan hanya tentang studi Alkitab. Ada juga berbagai bidang pelayanan lain, seperti pelayanan misi, wanita, anak, remaja, dan sebagainya. Dan, ini merupakan hasil dari aplikasi pergumulan dengan firman Tuhan untuk menghasilkan hidup Kristen yang alkitabiah dalam berbagai bidang.

Itulah yang menjadi strategi dari pelayanan Yayasan Lembaga SABDA, yang dapat saya katakan saat saya menyusun materi ini pada awal tahun yang lalu, ketika saya melihat lintas generasi digital yang ada saat ini. Kalau kita kenal ada beberapa istilah, ada baby bommers, generasi Y, generasi Z, lalu juga ada generasi Beta ke depan, Yayasan Lembaga SABDA ini tepat Tuhan dirikan ketika akan memasuki generasi digital. Yayasan Lembaga SABDA berdiri tahun 1994, dan ketika itu Tuhan memberikan kesempatan kepada kami untuk mengolah dan mendigitalkan berbagai bahan Alkitab maupun bahan studi Alkitab serta membuat pula berbagai macam program supaya kami bisa siap untuk generasi digital, yaitu generasi Z.

Sampai hari ini, kita lihat lebih detailnya di sini. Ini saya catat menjadi semacam jejak-jejak penting. Jadi, ketika memasuki generasi Y, SABDA lahir. Saat itu juga, kami memulai perintisan software Alkitab untuk studi. Ketika memasuki generasi digital, software SABDA sudah lahir, situs-situs SABDA juga lahir. Ada berbagai macam situs yang dapat kita lihat melalui situs www.sabda.org. Lalu, yang paling luar biasa yaitu situs Alkitab SABDA, yang masih menjadi satu-satunya situs di Indonesia untuk mempelajari Alkitab secara online secara lengkap. Dan, pada tahun 1995-2009, kami mulai memasuki dunia media sosial untuk melayani para generasi Z atau generasi digital yang ada di sana.

Ketika generasi Alfa hadir, kami juga sudah siap dengan teknologi yang menyertai lahirnya generasi Alfa, yaitu teknologi mobile, sehingga ada aplikasi-aplikasi Android maupun IOS. Lalu, kami juga membuat satu sistem untuk studi ALkitab ya yang terbuka, kami membuat proyek Alkitab Yang Terbuka.

Lalu, juga ada proyek untuk multimedia dengan Alkitab yang kami namakan SABDA MEDIA: ME = saya, Dia = Tuhan. Jadi, SABDA MEDIA itu dimaksudkan antara kita dengan Tuhan melalui media. Lalu, ada juga Alkitab Pintar, BOT, dan komunitas. Lalu, ketika masa pandemi ini sedang berlangsung, Tuhan juga memberikan satu "insight": kamu, kita harus membuat corona.sabda.org yang akan menolong orang percaya di Indonesia, terutama melihat pandemi ini dari sudut pandang alkitabiah, dari sudut pandang Kristen secara utuh. Ya, kami sediakan bahan-bahan tersebut dalam situs corona.sabda.org.

Tahun 2025, tinggal 5 tahun lagi ke depan. Kita akan masuk ke dalam generasi Beta, dan ini juga yang menjadi PR bagi Yayasan Lembaga SABDA. Bukan hanya Yayasan Lembaga SABDA, tetapi juga bagi gereja. Kita lihat sekarang, Tuhan seakan-akan memaksa gereja untuk memakai teknologi. Karena apa? Sebab, kita harus siap untuk generasi yang lebih luar biasa lagi dalam menggunakan teknologi. Saat ini, mungkin kita sedang susah payah, banyak gereja yang sedang susah payah, tetapi akhirnya mulai terbiasa dalam new normal untuk menggunakan teknologi di gereja. Namun, saya rasa tidak cukup dengan hanya khotbah streaming, atau melakukan ibadah streaming. Ada lebih dari itu yang harus dikerjakan untuk melayani generasi selanjutnya. Dan memang, tujuan dari pelayanan YLSA adalah dengan IT4 God kita dapat menjangkau generasi digital bagi Tuhan. Bagaimana caranya menjangkau mereka bagi Tuhan? Kita harus mengembalikan mereka kepada Alkitab. Oleh karena itu, kami terus setia dengan panggilan Tuhan. IT4God menjadi fasilitator, katalisator, dan infrastruktur bagi tubuh Kristus pada saat ini.

Dan, tidak sedikit tantangan dan pergumulan yang Yayasan Lembaga SABDA hadapi.

Yang pertama: we can't do it alone! Kami selalu yakin dan selalu dalam pelayanan SABDA selama 25 tahun, Tuhan selalu berkata, "Yayasan Lembaga SABDA, kita harus mengandalkan Tuhan. Ada terlalu banyak peperangan rohani. Ketika kita menjalani proyek-proyek tertentu, untuk program-program tertentu, ada banyak peperangan rohani yang harus kami hadapi. Akan tetapi, kami selalu dapat melihat dan menikmati keajaiban-keajaiban Tuhan karena kami tidak dapat mengerjakan ini sendiri. Ada Tuhan bersama kami. Dan, juga dunia digital itu adalah dunia networking yang interconnecting (saling terkait - Red.). Yayasan Lembaga SABDA tidak dapat bekerja tanpa mitra dan tanpa pelayanan lain, sehingga ini selalu menjadi kesempatan bagi kami untuk membuka diri bagi mitra dan yayasan lain. Ya, acara SABDA live ini juga kami adakan supaya kita bisa melihat apa yang sama-sama dapat kita kerjakan untuk pelayanan digital di Indonesia, khususnya nanti pada era new normal.

Hal yang kedua adalah perkembangan data dan teknologi. Teknologi meledak dalam perkembangan yang pesat dengan begitu banyaknya data alkitabiah. Nah, pada era digital, orang-orang memang memiliki banyak informasi dan data, tetapi mereka sedikit mendapat pengertian. Ini menjadi tantangan bagi kami, bagaimana dengan banyaknya informasi dan perkembangan teknologi yang ada dapat kita integrasikan, terutama data-data Alkitab yang alkitabiah. Bahan-bahan alkitabiah dapat kita integrasikan secara teknologi sehingga banyak yang menikmati pengalaman studi Alkitab untuk mendapatkan pengertian yang mendalam, bukan pengertian yang dangkal. Melalui data yang banyak tersebut, kita bisa terbantu untuk mendapat pengertian yang mendalam serta bisa mendalami studi Alkitab yang fun dan bertanggung jawab. Jadi, memang kami harus terus menyaring perkembangan teknologi yang strategis dan efektif, serta harus tepat menggunakan media. Harus peka melihat zaman dan waktu dan momen yang tepat. Sama seperti seharusnya dengan gereja melihat perkembangan teknologi.

Ya, ini juga menjadi tantangan dan pergumulan tersendiri bagi Yayasan Lembaga SABDA. Ketika kami awal-awal memulai pelayanan SABDA, sangat banyak gereja, bahkan sampai hari ini, yang masih belum siap dengan studi Alkitab maupun teknologi. Dan, sebenarnya kita sudah menyadari teknologi itu sudah mengubah dunia. Pastinya ini menjadi kesempatan dan tantangan bagi gereja untuk maju, siap atau tidak siap. Dalam menghadapi era digital yang mengedukasi tubuh Kristus untuk memanfaatkan teknologi, untuk mendukung rohaninya, gereja harus siap. Pada masa COVID-19 ini, kita bisa melihat bahwa siap tidak siap gereja harus masuk untuk mengerjakan pelayanannya dengan teknologi. Bersama dengan gereja, kita harus memikirkan cara dan arti pelayanan pada abad ke-21. Jadi, mungkin ada gereja yang siap dengan teknologi, tetapi tidak siap dengan bahan. Oleh karena itu, Yayasan Lembaga SABDA memikirkan bahan-bahan kios gereja, bahan-bahan media yang bisa diakses dan bisa dibuka di kios.sabda.org. Bahan-bahan multimedia juga bisa dilihat di sabda.id, serta masih banyak lagi contoh bahan lain bagi gereja. Sebagai contoh, situs corona.sabda.org bisa menjadi pintu masuk ke dalam bahan-bahan yang lebih kaya lagi bagi pelayanan gereja.

Lalu, pergumulan dan tantangan yang berikutnya adalah generasi baru. Teknologi sudah mengubah dunia dan menghasilkan generasi digital baru, yang masih banyak tidak terhubung dengan Firman Tuhan melalui teknologi yang mereka pakai. Oleh karena itu, kita bersama harus kreatif dan inovatif. Kembangkan program-program pelayanan yang tidak hanya untuk hari ini, atau minggu depan, atau bulan depan. Akan tetapi, mari kita kembangkan pelayanan untuk 5 - 10 tahun ke depan. Kita harus bersiap untuk generasi digital yang berikutnya.

Berikutnya, menjadi pergumulan dan tantangan yang luar biasa bagi YLSA, yaitu sumber daya. Kami selalu membutuhkan segala jenis SDM IT, programmer Kristen, dan sebagainya. Selain itu, kami juga selalu mendorong teman-teman SABDA untuk meningkatkan keterampilannya dan terus memantapkan panggilan pelayanan mereka. Lalu, kami juga perlu fasilitas dan infrastruktur untuk operasional pelayanan. Lalu, pastinya kami membutuhkan dukungan dari para donatur, terutama untuk masalah keuangan saat ini.

Terakhir, ini juga yang menjadi pergumulan dan tantangan SABDA saat ini, yaitu SABDA menjadi garda terdepan. Pada saat awal-awal COVID merebak, banyak sekali surat yang masuk kepada kami yang bertanya tentang "Saya butuh bahan untuk pelayanan gereja saya, karena saya tidak punya bahan-bahan digital". Dengan senang hati, kami memberikan. Ada yang bertanya, "Bisakah saya mendapatkan link video-video Alkitab atau link untuk video-video pelayanan anak?" Kami berikan dengan senang hati karena bahan-bahan itu sudah ada dan Tuhan sudah berikan. Oleh karena itu, sebagai garda terdepan dari pelayanan online, pelayanan digital, serta sistem studi Alkitab di Indonesia, kami siap untuk terus menjadi katalistator, fasilitator, dan infrastruktur bagi gereja dalam bidang Alkitab dan teknologi. Dengan begitu, kami akan terus dapat mengerjakan panggilan Tuhan ini.

Perkembangan visi dan misi SABDA akan terus berjalan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kiranya Tuhan menolong kami untuk bisa menggunakan teknologi dari dan untuk kemuliaan Tuhan.

Sekian dari saya, salam IT4God!