GoGrow: Life Mission, Digitally!

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang Kristen dengan fakta bahwa sebanyak 73% daerah-daerah di Indonesia sudah terhubung dengan internet?

Christian Vision atau lebih kita kenal dengan sebutan YesHeIs mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dengan tagline "Life in mission", gerakan pelayanan ini telah menjadi bagian dari jawaban untuk pertanyaan di atas. YesHeIs memulai pelayanannya dari media sosial, terutama di Facebook dan Instagram. Sebenarnya, YesHeIs merupakan salah satu proyek pelayanan dari Christian Vision itu sendiri. "Life in mission" menjadi topik yang akan dibahas. Tiga kata ini sangat singkat, tetapi maknanya sangat dalam dan beragam, khususnya dalam "Life Mission Digitally" atau hidup di dalam misi secara digital. Jadi, ada dua unsur yang akan dibahas, yaitu tentang misi itu sendiri dan cara mengaplikasikannya secara digital.

Christian Vision (CV) merupakan sebuah lembaga misi internasional yang fokusnya adalah untuk memperkenalkan Kristus kepada sebanyak mungkin orang dan mendorong mereka untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati. Pelayanan CV tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara di seluruh dunia dengan lebih dari satu proyek pelayanan. Ada beberapa proyek pelayanan yang dikerjakan secara bersamaan. Dan, salah satu yang lebih dikenal di Indonesia adalah YesHeIs Indonesia. YesHeIs ini menjadi visi lembaga dan ada di dalam hati setiap pekerjanya, yaitu penginjilan. Kerinduan pelayanan ini adalah supaya orang-orang di seluruh dunia mengenal Kristus. Bahkan, tidak hanya mengenal, tetapi juga didorong untuk menjadi pengikut-Nya. Sebab, mengenal dan mengikuti itu dua hal yang berbeda. Ketika ditanya, apakah kamu kenal Yesus? Seseorang mungkin tahu bahwa Yesus adalah Tuhannya orang Kristen. Akan tetapi, apakah mereka mengikut Yesus? Tentu ini adalah hal yang lain.

Topik ini akan dimulai dari sesuatu yang tidak baru buat kita semua. Sesuatu yang pasti kita gunakan setiap hari, yaitu gawai. Bahkan, kita mungkin sudah tidak menyadari seberapa dalam dan sering kita menggunakan gawai, media digital, dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ada satu data dari situs We Are Social yang mengumpulkan atau mencatat statistik penggunaan internet dan media digital di Indonesia. Menurut survei tahun 2022, rata-rata penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia adalah 8 jam dalam satu hari. Dan, kebanyakan aktivitas yang dilakukan adalah di sosial media. Data teratas adalah untuk menonton video. Tujuan mereka menonton dari internet adalah agar terhubung dengan sesama, mengisi waktu luang, kemudian mengikuti trend.

Data ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang sudah kita alami sehari-hari. Dan, dengan fakta bahwa sudah 73% (data tahun lalu, saat ini mungkin sudah mencakup 85%) daerah-daerah di Indonesia terhubung dengan internet, jadi bayangkan konektivitas yang terjadi antara satu orang dengan orang yang lain di Indonesia.

Sadar tidak sadar, sekarang pun kita dapat menjangkau ujung bumi dengan ujung jari kita. Cukup dengan menekan satu tombol di perangkat kita sendiri. Ini menjadi sebuah kesempatan bahwa relasi-relasi yang sebelumnya tidak dapat kita bangun karena jarak dan waktu, sekarang dapat kita bangun dengan sangat mudah dari tempat kita masing-masing. Namun, pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan dengan kesempatan itu? Sejauh ini, apa yang kita lakukan dengan kontak yang ada di handphone kita dan dengan followers di sosial media kita?

Apakah sejauh ini dengan semua kemudahan digital yang ada di tangan kita, kita sudah melakukan sesuatu untuk melayani Tuhan? Sebelum melangkah lebih jauh ke hal-hal teknis, apakah kita sudah mengembangkan motivasi kita bahwa internet menjadi alat yang sangat memudahkan kita untuk melayani Tuhan dengan cara-cara yang kita persiapkan dengan baik? Mengingat saat ini dunia digital sudah sangat dekat dengan kita dan tidak sulit untuk kita mengerti.

Data berikutnya adalah data dari Joshua Project Indonesia, sebuah lembaga pelayanan yang kurang lebih memberikan statistik tentang kondisi-kondisi suku-suku bangsa di dunia. Data menunjukkan bahwa 70% penduduk Indonesia masih belum dijangkau (unreached) dengan Injil. Alasannya adalah tidak ada akses kepada Injil di lokasi tersebut. Akses itu dapat berupa film. Apakah ada film tentang Tuhan Yesus yang diterjemahkan ke dalam bahasa mereka dan kemudian dapat mereka akses? Kemudian, apakah ada Alkitab yang dapat mereka akses? Apakah ada pekerja Injil yang dikirim ke sana? Jika jawaban ketiga-tiganya di bawah satu atau 2% atau sangat sedikit, bahkan tidak ada, suku bangsa tersebut dapat dikatakan belum dijangkau. Data ini cukup tidak mengenakkan untuk kita ketahui karena orang Kristen di Indonesia sudah cukup memiliki kebebasan untuk beribadah, ada gedung untuk beribadah dengan nyaman, kita dapat melayani Tuhan tanpa ada serangan atau gangguan. Namun, di luar sana masih ada sekitar 70% saudara-saudara kita sebangsa setanah air yang belum memiliki akses terhadap Injil.

Di samping itu, data menunjukkan bahwa kurang dari 4% orang yang sudah punya visi, niat, dan semangat untuk membagikan Injil. Ini berarti terdapat gap antara kebutuhan dan penyediaan yang tidak seimbang. Dengan demikian, ada kebutuhan akan Injil yang sangat besar, tetapi penyedia kebutuhannya tidak ada. Data ini menjadi pengingat bagi kita sebagai orang Kristen bahwa apakah sejauh ini kita sudah cukup memberitakan Injil? Jika belum cukup, apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan agar kebutuhan itu tercukupi?

Dalam Injil Lukas 10:2 (AYT), Kristus berkata, "Hasil panen memang sangat banyak, tetapi pekerjanya hanya ada sedikit. Oleh karena itu, mintalah kepada Tuan yang memiliki hasil panen itu untuk mengutus pekerja-pekerja untuk mengumpulkan hasil panen-Nya." Ayat ini masih relevan sampai hari ini. Perkataan Kristus kepada para murid-Nya pada waktu itu mendorong mereka untuk segera memberitakan Injil. Urgensinya juga sama hingga hari ini, yaitu kita masih melihat gap atau celah yang terlalu besar, yaitu persentase kebutuhan akan Injil dan persentase orang yang siap pergi memberitakan Injil. Karena itu, Yesus meminta kita untuk meminta agar Ia sendiri yang mengirimkan para pekerja itu. Kita pun dapat meminta kepada Yesus untuk mengirimkan pekerja atau pun menjadi orang-orang yang menjadi jawaban doa rekan-rekan kita yang lain atau meminta cara supaya kita menjadi pekerja yang Tuhan kirimkan juga untuk menjangkau. Jadi, ini sebuah kebutuhan misi yang perlu kita jawab bersama-sama. Tidak perlu hanya menunggu gereja, menunggu departemen misi gereja, atau menunggu lembaga misi untuk bergerak. Ini menjadi pekerjaan kita bersama-sama.

Dengan demikian, adanya gap yang besar untuk segera dipenuhi ini menjadi alasan Tuhan Yesus beberapa kali memberikan perintah yang sangat jelas pada para pengikut-Nya untuk memberitakan Injil dan memuridkan. Dua ayat ini menjadi pegangan kita bersama untuk terus hidup sebagai orang percaya dan memiliki hidup yang bermisi. Misi yang kita miliki sebagai orang percaya ini bukan misi yang kita buat sendiri atau berganti-ganti setiap tahun. Namun, sebagai orang Kristen, Tuhan Yesus sudah memberikan visi yang sangat jelas. Misi yang harus kita kerjakan sudah sangat jelas, yaitu pergi kepada suku-suku bangsa yang belum pernah mendengar Injil, kemudian menjadikan mereka sebagai murid Yesus, membaptis mereka, dan mengajar mereka. Jadi, dari dua ayat ini yang perlu kita kerjakan: pergi, memuridkan, mengajar, membaptis, dan mengajar mereka. Ini menjadi landasan bagi kita untuk memikirkan cara bagaimana bermisi dengan media digital yang ada di tangan kita.
 
Kitab Kisah Para Rasul sangatlah menarik karena berbicara tentang misi para murid yang diutus oleh Tuhan Yesus untuk pergi memberitakan Injil dan memuridkan, yang mereka taati dengan segera. Bagaimana para murid ini menjalankan misinya? Secara umum, para murid ini bermisi dengan dua cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah dengan berkhotbah di depan publik. Mereka berbicara tentang Injil di depan banyak orang. Cara yang kedua adalah mereka bermisi atau berbicara tentang Injil melalui percakapan. Misi ini dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada pembagian tugas khusus di antara para murid. Kita dapat melihat beberapa peristiwa yang dikerjakan oleh para murid ini di sepanjang kitab Kisah Para Rasul.
 
Misalnya, pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus, setelah itu ribuan orang yang menjadi percaya, bertobat, dan dibaptis. Kemudian, dalam Kisah Rasul 4, Petrus dan Yohanes berbicara di depan Mahkamah Agama. Saat itu, mereka dikecam bahwa mereka harus diam dan berhenti berbicara tentang Yesus. Namun, mereka berkata bahwa mereka tidak bisa diam dan berhenti berbicara tentang sesuatu yang mereka saksikan sendiri. Dalam Kisah Rasul 17, Paulus berada di Athena dan bersoal jawab tentang Allah yang tidak dikenal. Paulus berbicara di ruang publik. Kemudian, ada Stefanus di depan Mahkamah Agama juga bersaksi di depan sangat banyak orang tentang Yesus. Selain itu, sebagian murid juga mengambil kesempatan untuk berbicara tentang Injil kepada satu atau dua orang saja, antara lain saat Tuhan memercayakan mukjizat kepada Petrus dan Yohanes sehingga orang lumpuh di Bait Suci bisa berjalan. Kemudian, ada Filipus yang berbicara kepada sida-sida dari Etiopia yang mempertanyakan bagian kitab suci yang ia baca sebelumnya dalam perjalanan mereka di kereta. Masih ada pula percakapan Petrus kepada Kornelius, dan juga Paulus kepada kepala penjara di Filipi. Sangat banyak cerita di dalam Alkitab tentang cara bermisi para murid. Itulah alasan yang membuat Kisah Para Rasul menjadi kitab yang sangat menarik. Jika kita mengakhiri kitab Injil dengan Amanat Agung dari Tuhan Yesus, maka kemudian terbukti bahwa para murid tidak sekadar mengiyakan Amanat tersebut, tetapi benar-benar melakukan misi yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka mengerjakannya dan polanya tidak selalu kita lihat secara publik, tetapi mereka juga melakukannya pada ranah-ranah yang personal.

Ketika mereka melakukan misi ini, apakah selalu mulus? Apakah tidak ada tantangan sama sekali? Tentu tidak, mereka mengalami banyak sekali penolakan, pengasingan, beberapa mengalami penganiayaan, bahkan harus kehilangan nyawa karena bermisi. Risiko itu pun tetap ada sekalipun tidak di ranah publik. Ada hubungan-hubungan yang mungkin menjadi renggang, ada ancaman penganiayaan fisik, dan sebagainya. Keuntungan pemberitaan Injil yang dilakukan di depan publik adalah dapat menjangkau banyak jiwa, seperti yang dilakukan Petrus pada waktu berbicara di peristiwa Pentakosta ada ribuan orang yang menyerahkan diri. Ada begitu banyak orang yang mendengar khotbahnya pada waktu itu. Pemberitaan Injil di depan publik juga membantu kita menyaring orang-orang yang hatinya memang sudah dipersiapkan oleh Roh Kudus untuk percaya dan merespons kepada Injil. Namun, pemberitaan Injil secara personal juga memiliki beberapa keuntungan, yaitu kita dapat menceritakan Injil kepada satu atau dua orang dalam percakapan. Waktu yang dimiliki menjadi lebih leluasa, dan kita juga dapat melakukan percakapan yang lebih mendalam, lebih berkualitas, dan memungkinkan adanya tanya jawab.
 
Poin pertama untuk kita renungkan adalah bahwa kesempatan untuk memberitakan Injil sebenarnya dapat kita lakukan dalam konteks apa pun yang kita miliki. Jika Tuhan memercayakan kita untuk menjadi pembicara publik, kita dapat memakai kesempatan ini untuk memberitakan Injil. Atau, jika pelayanan kita memungkinkan kita untuk bertemu dengan orang-perorangan dengan lebih leluasa atau tidak secara publik, itu pun juga kesempatan untuk memberitakan Injil. Jadi, apa pun bentuk pelayanan kita, sebenarnya kalau kita mau, kita dapat mengupayakan penginjilan sesuai dengan konteks pelayanan kita masing-masing. Dengan demikian, kita dapat menyampaikan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal hanya kita temukan di dalam Kristus.

Poin kedua yang perlu kita renungkan di dalam setiap pelayanan yang sudah kita lakukan adalah apakah kita sudah mengupayakan pemberitaan Injil dengan sengaja? Sengaja berarti sudah mendoakan serta mengupayakan kesempatan-kesempatan agar kita berada di dalam situasi untuk menyampaikan Injil kepada orang lain. Jadi, ini titik refleksi kita yang kedua. Dengan demikian, kita sudah memiliki dua kategori cara bermisi, yaitu secara publik dan secara personal. Keduanya adalah kesempatan yang berharga dan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk pemberitaan Injil. Tidak ada yang lebih baik daripada yang lainnya karena keduanya merupakan kesempatan untuk menolong banyak orang mengenal Dia.

Sebenarnya, kedua kategori bermisi tersebut sudah sangat mungkin kita lakukan dalam media digital. Penginjilan yang dilakukan oleh para murid pada awal pertumbuhan kekristenan, baik secara publik maupun personal, juga dapat kita lakukan melalui sosial media saat ini, hanya berbeda lokasi. Kalau para murid melakukannya dengan berjalan kaki, kita dapat melakukannya dengan duduk di sofa dan ruangan yang sejuk, menggunakan handphone yang ada di tangan kita, dan bermisi kepada banyak orang. Kategorinya tetap sama, yaitu bermisi secara publik atau secara personal. Media sosial atau media digital memungkinkan kita untuk melakukannya, misal melalui Facebook, TikTok, atau YouTube. Kita dapat membuat konten apa pun berupa video, foto, quotes, atau tulisan untuk membagikan Injil kepada orang banyak. Siapa orang banyak yang ada di sosial media kita? Tentunya pengikut (followers) atau teman-teman kita di sosial media.

Membagikan Injil secara personal dapat dilakukan melalui fitur percakapan (chat), misal direct message atau DM di Instagram, atau dengan berbagi pesan dan status di WhatsApp. Konten yang kita unggah di media sosial dapat dilihat oleh banyak orang, tetapi kita juga dapat bercakap-cakap dengan satu atau dua orang saja. Sudah ada misi, tools, dan kesempatannya, dengan demikian kita sudah sangat siap untuk bermisi melalui media sosial dengan cara-cara yang kreatif.

Berikut adalah contoh nyata penginjilan melalui media sosial kepada ranah publik yang dapat kita lakukan. Membuat konten di TikTok. Kadang, memang konotasi media ini tidak selalu positif dan berisi konten-konten yang kurang berkualitas. Namun, sebenarnya media sosial itu bersifat netral. Dengan membuat naskah yang dipersiapkan dengan baik, satu konten dapat mencoba memperkenalkan tentang Kristus, kemudian dapat kita distribusikan seluas-luasnya. Ini adalah cara bermisi kepada publik yang dapat kita lakukan dalam dunia digital saat ini. Jadi, sekarang bergantung kemauan kita untuk mau belajar mempersiapkan konten yang bermuatan Injil, kemudian dibagikan di sosial media.

Poin ketiga adalah apakah sejauh ini kita sudah menggunakan konten-konten media sosial kita untuk bercerita secara sengaja tentang Tuhan Yesus? Bermisi atau act mission secara personal di media digital sebenarnya sudah bisa kita lakukan melalui percakapan yang sederhana, hanya mungkin kita tidak menyadarinya. Misal, dengan menggunakan fitur Q&A atau tanya jawab di Instagram. Sebagai seorang Kristen, kita dapat memanfaatkan fitur dengan cara yang berbeda, yaitu dengan memilih topik spiritual sehingga memunculkan percakapan. Kita dapat membuat pertanyaan, "Orang stres katanya karena kurang ibadah. Apa benar begitu?" Beberapa orang akan membalas pertanyaan ini dan kita dapat membicarakan banyak hal dan beberapa percakapan itu berakhir dengan percakapan spiritual, termasuk membagikan Injil. Selain itu, jika menggunakan aplikasi WhatsApp, kita sering kali dapat menghubungi teman lama untuk sekadar menanyakan kabar atau membuat janji untuk pergi ke satu tempat bersama-sama. Padahal, sebenarnya WhatsApp dapat kita pakai sebagai media misi secara digital. Kita dapat merancang percakapan-percakapan atau pertanyaan-pertanyaan yang membuat percakapan itu menjadi lebih panjang dan menggunakan kesempatan untuk membagikan Injil. Membagikan Injil itu bukan hanya kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya, tetapi juga kepada orang Kristen yang mungkin juga sedang tidak taat. Banyak rekan-rekan kita yang juga butuh diingatkan tentang Injil. Jadi, tidak ada yang sulit, tetapi hal yang perlu kembali kita refleksikan adalah apakah kita sudah melakukannya dengan sengaja? Apakah di ranah publik kita sudah membuat konten yang bisa dinikmati oleh orang lain supaya mereka mengenal Yesus dan hal yang Yesus lakukan? Juga, secara personal apakah kita dengan sengaja mengupayakan percakapan yang akan mengarah kepada percakapan spiritual agar dapat membagikan Injil kepada mereka. Sebenarnya, alatnya sudah ada di tangan kita, tergantung apakah kita mau dengan sengaja memanfaatkannya atau tidak.

Bicara tentang pemberitaan Injil, bagaimana cara menggiring topik tertentu kepada Injil? Jawabannya sama seperti mempertanyakan cara berenang. Tidak cukup hanya dengan menonton video tutorial berenang di YouTube, kita harus masuk ke kolam renang, berlatih, kemudian barulah kita dapat berenang. Begitu juga dengan menyampaikan Injil. Kita perlu mempraktikannya dan menemukan pola penginjilan kita sendiri, baik melalui pertemuan tatap muka maupun melalui daring. Melalui praktik penginjilan, kita dapat mulai masuk ke dalam persoalan sehari-hari teman atau relasi kita yang mengalami kekhawatiran, penderitaan, atau kesedihan dalam tingkat tertentu. Dari situ, kita perlu menjadi pendengar yang baik dan merengkuh serta memberikan dukungan kepada mereka. Dengan cara ini, kita dapat terkoneksi dengan tujuan membagikan Injil, dan juga meneladankan Injil.

Kasih Kristus yang kita ceritakan di dalam Injil perlu didemonstrasikan juga dalam pelayanan kita sehari-hari. Jadi, Injil tidak hanya didengar secara verbal, tetapi juga dilihat atau didemonstrasikan dalam kehidupan kita. Karena Injil adalah jawaban dan kabar baik, kita pun perlu memberi tahu "kabar buruknya". Dari sini, kita perlu berbagi tentang arti dosa dan bahwa dosa itu sudah sangat merusak dunia kita saat ini. Dosa telah merusak manusia roh sehingga mati dan kehilangan kemuliaan Allah. Dosa telah membuat manusia berbuat jahat dan menyakiti orang lain. Bayangkan jika satu orang berdosa yang memiliki tendensi untuk menyakiti orang lain hidup bersama-sama dengan orang berdosa lain yang juga memiliki tendensi menyakiti orang lain, betapa kacaunya dunia ini! Bukankah di tengah-tengah dunia yang kacau ini kita perlu Injil sebagai jawaban? Sebab, Kristus yang sudah menebus kita, dengan kuasa-Nya akan mengubah manusia itu dari dalam keluar. Dari sinilah, kita dapat bercerita bahwa Injil bukan hanya masuk akal, tetapi juga indah. Injil juga membuat kita terkagum dengan cara Yesus yang seharusnya tidak berdosa, tetapi dihukum. Yesus yang seharusnya dapat membebaskan diri, tetapi tidak melakukannya karena Ia mau melakukannya untuk kita.
 
Keindahan-keindahan Injil yang kita refleksikan setiap hari perlu disampaikan kepada banyak orang supaya mereka dapat datang kepada Kristus. Dengan demikian, mereka akan melihat keindahan Injil, bukan karena dipaksa. Istilah "kristenisasi" seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang sifatnya manipulatif atau memaksa. Padahal, di dalam penginjilan, kita tidak melakukan manipulasi atau pemaksaan. Namun, kita sedang menunjukkan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa dosa ini sangat merusak dan Kristus menjadi satu-satunya harapan bagi kita semua. Dengan demikian, pemberitaan Injil menjadi sesuatu yang lebih fleksibel dan natural, mengalir dari dalam diri kita ke luar melalui semua yang kita katakan dan sampaikan, baik melalui tatap muka maupun di media sosial.

Ada tiga tahap penginjilan secara digital yang dapat kita lakukan di media sosial secara sederhana, yaitu konten, distribusi, dan percakapan. Pertama, konten. Kita dapat membuat video atau mengedit gambar. Misal, foto langit dengan tulisan ayat firman Tuhan atau renungan singkat dari handphone kita masing-masing. Kita juga bisa menulis artikel dan sebagainya dengan membuka catatan di handphone kita. Poinnya adalah untuk menjadi kreator konten kita hanya membutuhkan sebuah handphone saja. Ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan, antara lain Canva yang bisa diunduh di Play Store atau di App Store. Kemudian, kita juga dapat menandai foto dokumentasi dari handphone ketika ada acara bersama rekan atau keluarga yang memiliki cerita masing-masing. Jika kita masih bingung dengan konten yang ingin kita kreasikan, kita dapat mengikuti (follow) beberapa akun rohani dan mengunduh kontennya, kemudian konten tersebut dapat kita teruskan di media sosial kita dengan menyertakan sumbernya. Ini menjadi sarana pertama kita memberitakan Injil secara publik.

Kedua, distribusi. Distribusi juga penting untuk dipikirkan. Misal, saat kita mempertimbangkan artikel kita yang sepanjang lima paragraf untuk diunggah dalam platform apa. Apakah di Instagram, WhatsApp, Facebook, atau TikTok? Untuk itu, kita juga perlu menyesuaikan konten dengan karakteristik platform media sosial tersebut. Video dapat kita unggah di TikTok, sementara artikel lebih tepat kita unggah di caption Facebook atau Instagram. Jadi, apa pun konten yang kita miliki, kita perlu memilih tempat distribusi yang tepat. Video pendek selama 30 detik dengan memuat delapan baris kalimat dapat dibuat di Canva. Kemudian, delapan kalimat tersebut dapat dimunculkan bergantian dengan video pendek dan diunggah di status WhatsApp atau di Facebook sehingga orang akan menerima penjelasan Injil firman Tuhan.

Ketiga, mengusahakan percakapan dengan mereka. Percakapan dapat dimulai dari respons atau komentar yang diberikan di halaman (feed) akun kita. Kemudian, kita perlu mengusahakan supaya kita juga dapat menyampaikan Injil secara personal melalui direct message (DM). Terkait dengan itu, ada hal yang perlu kita ingat sebagai orang-orang yang aktif melalui messaging di platform WhatsApp, DM, dan sebagainya. Apakah kita ini cukup responsif menjawab chat dari seseorang dalam konteks hubungan pribadi dan melayani mereka? Memang, ada beberapa orang yang tidak terlalu responsif di chat. Padahal, di dunia digital, jika kita mengabaikan satu chat, kita akan terbiasa melakukannya dan akan terbiasa untuk mengabaikan chat berikutnya. Ini tentu bukan respons yang baik untuk bermisi melalui platform chat.

Konten, distribusi, dan percakapan ini merupakan satu siklus yang perlu kita perhatikan. Namun, jangan menjadikannya sebagai hal hal yang sulit untuk dikerjakan. Lakukan beberapa hal praktis yang dapat kita mulai hari ini. Langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengeksplorasi platform media sosial yang baru. Jika selama ini kita terbiasa mengakses Facebook, kita dapat mulai mengeksplorasi TikTok dan melihat konten berisi firman Tuhan dengan cara yang tidak kaku. Kedua, jangan lupa untuk belajar membuat konten secara konsisten sehingga pengikut media sosial kita menjadi familiar dengan konten kita. Ketiga, ambil kesempatan untuk bercakap-cakap dengan teman-teman lama kita di Facebook dengan memberi komentar, menanyakan kabar, atau memberi reaksi sehingga menjadi cara untuk kita terhubung dengan orang lain. Sebab, untuk menyampaikan Injil kepada orang lain, pertama-tama kita harus terhubung. Kemudian, kita perlu belajar dari sumber-sumber online lainnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan rohani yang sulit. Kita dapat mempelajari akun-akun lain yang sama-sama sedang bermisi melalui platform digital.