SABDA Live #FunTalks — Vlogging berHP Like a Pro


Sudahkah Anda "Nge-Vlog"?

Pada masa kini, yang semua serba hi-tech, sudah banyak infrastruktur komunikasi kita yang memadai. Dengan begitu, para pegiat media sosial bisa melampiaskan hasratnya untuk menyalurkan talenta terpendamnya melalui media vlog. Mengapa vlog ini digandrungi oleh para muda-mudi masa kini? Karena vlog menjadi penanda citra generasi kekinian. Saya dan Anda bisa mengekspresikan diri melalui media vlog ini di mana pun dengan konten-konten yang unik dan kreatif. Cukup dengan gadget yang ada di tangan, kita sudah bisa menjadi vlogger.

Kali ini, saya akan berbagi kepada rekan-rekan pembaca blog SABDA tentang "Vlogging berHP Like a Pro". Jadi, ceritanya beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Rabu, 1 Juli 2020, saya mengikuti sesi SABDA Live. Adapun yang menjadi narasumber pada SABDA Live saat itu adalah Bapak Purnawan Kristanto. Beliau membawakan materi tentang "Vlogging berHP Like a Pro" dengan santai dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh kaum muda. Beliau menyampaikan materi tersebut di platform Zoom yang dihubungkan pada live streaming YouTube. Pesertanya pun beragam, ada yang muda dan boleh dibilang tidak muda lagi.

Berikut ini adalah hal-hal yang saya dapat dari pemaparan beliau tentang "Vlogging berHP Like a Pro":

Kemajuan teknologi mengubah cara orang berkreasi dan berbagi. Vlogging termasuk salah satu cara yang digemari masyarakat masa kini. Membuat vlog yang baik juga tidak harus bermodalkan alat-alat canggih. Saya dan Anda dapat menggunakan HP untuk membuat vlog yang menarik dan memberkati.

Vlog itu sendiri adalah adaptasi dari kata "Blog". Blog merupakan singkatan dari web log, yaitu catatan berupa tulisan yang diunggah di web. Jadi, Vlog adalah Video + log = catatan dalam format video. Video itu sendiri adalah Visual (gambar) + audio (suara), yang berarti bahwa video adalah gabungan antara gambar (bergerak) dan suara. Format video ini tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kelebihan video:

  • Dapat menyentuh perasaan.
  • Mudah dicerna orang yang tidak bisa membaca.
  • Universal. Orang yang berbeda bahasa pun bisa menangkap pesan.
  • Dapat diulang.
  • Mendokumentasikan peristiwa.
  • Cepat dan berpotensi viral.

Adapun kekurangan video:

  • Membutuhkan perangkat (yang mahal).
  • Membutuhkan keterampilan khusus.
  • Membutuhkan bandwidth internet lebih banyak.
  • Membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak dalam produksi.
  • Komunikasi yang dijalin masih bersifat satu arah. Audiens tidak bisa segera memberikan feedback.

Tahukah Anda? bahwa hampir 80% lalu lintas data di internet pada tahun 2019 berupa video. Maka dengan video ini, saya bisa menjangkau lebih luas, bisa dikenal, memengaruhi orang banyak, dan memperkuat pesan yang hendak saya sampaikan dalam vlog.
Ketika nge-Vlog, saya dan Anda perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Elemen Video
    Pencahayaan menjadi syarat utama produksi video. Sumber cahaya alami mampu menciptakan atmosfer khusus.
  2. Komposisi
    Komposisi terkait dengan objek yang akan diambil. Letak dan jumlah objek harus diperhatikan. Komposisi yang perlu diperhatikan berupa: Golden Triangle, framing, fill the frame, negative space, rule of odds, dan kesimetrisan.
  3. Sudut Pengambilan
    Diperlukan pemilihan angle yang tepat, misal: eye level (fokus sejajar mata manusia), bird eye (melihat dari atas ke bawah), low level (pengambilan dari bawah bisa dengan jongkok/berbaring), worm eye (pengambilan dengan meletakkan kamera di tanah).
  4. Momentum
    Kemampuan untuk mencari timing yang tepat agar hasilnya bisa sesuai.
  5. Suara
    Suara menjadi bagian penting dalam video. Hindari kondisi yang bising agar suara tidak terlalu ramai. Perlu mendekat pada sumber suara atau penggunaan headset/mikrofon.

Selain itu, saya dan Anda perlu juga untuk mengetahui tip merekam video yang baik, yaitu:

  1. Membersihkan kaca lensa.
    Bersihkan dengan tisu basah, lalu lap dengan tisu/kain kering.
  2. Menggunakan kedua tangan untuk merekam.
    Memegang kamera dengan dua tangan agar tidak goyang dalam pengambilan gambar. Namun, menggunakan tripod adalah cara yang lebih baik.
  3. Jangan menutupi dan mengetuk mikrofon.
    Perlu berhati-hati untuk tidak menyentuh dan mengetuk mikrofon karena dapat menimbulkan suara lain.
  4. Mengambil video secara horizontal.
    Posisi pengambilan video secara horizontal adalah posisi terbaik jika ingin diunggah ke YouTube dan IG.

Dengan mengikuti SABDA Live ini, saya semakin dibukakan hal-hal baru dalam nge-Vlog. Ada banyak platform aktif media sosial yang dapat digunakan dan saya bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan konten. Saya sendiri lebih senang menggunakan platform IG. Mari kita menggunakan gadget kita untuk membuat konten-konten kekinian yang memberkati. Let the camera roll!

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.